Dalam kesempatan acara peresmian Sekolah Tinggi Agama Islam Aisyah binti Abu Bakar(18/7), Nasaruddin juga menyoroti pentingnya integritas dalam proses transmisi ilmu, khususnya dalam tradisi keilmuan Islam. Ia mencontohkan ketatnya metodologi Imam Bukhari dalam menyeleksi hadis. Menurutnya, seorang penyampai ilmu tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga harus memiliki integritas dan akhlak.
Ia menyampaikan prinsip bahwa dalam menerima sebuah informasi, seseorang perlu memperhatikan bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi juga siapa yang menyampaikannya. Karena itu, menurut Nasaruddin, sifat seperti kejujuran, kehormatan diri, rasa malu, keikhlasan, dan integritas merupakan bagian penting dalam menentukan kredibilitas seseorang sebagai sumber ilmu.
Selain itu ia juga menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan dan ilmu pengetahuan. Karena itu, para mahasiswi diminta memanfaatkan kesempatan belajar di kampus tersebut dengan sebaik-baiknya. Nasarudin juga mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran baru dari perguruan tinggi tersebut, termasuk kajian keislaman yang mampu membaca persoalan perempuan dan masyarakat secara lebih kontekstual.
Menurutnya, pemahaman terhadap Al Quran harus terus dikembangkan melalui penguasaan bahasa Arab yang mendalam. Semakin seseorang memahami bahasa Al Quran secara mendalam, semakin luas pula kemampuannya memahami pesan-pesan Islam secara utuh.
RND
