Dikutip dari tulisan yang dibagikan oleh Ustadz Budi Marta Saudin, Kisah Sosok Alumni Pesantren yang Kini Menjadi Barista di Arab SaudiMenjadi guru ngaji dan dai di kampung adalah pilihan hidup yang pernah dijalani Abdullah, seorang alumni pesantren yang menempuh pendidikan agama di jenjang Ma’had Aly, Magelang.
Namun, setelah berkeluarga, ia menyadari bahwa penghasilannya belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang terus bertambah. Dengan tekad yang kuat, Abdullah pun memutuskan merantau ke Arab Saudi demi mencari nafkah yang lebih baik, tanpa meninggalkan keinginannya untuk terus menuntut ilmu agama.
Perjalanan menuju negeri rantau tidaklah mudah. Awalnya ia melamar pekerjaan sebagai sopir bus, tetapi kesempatan itu tak kunjung datang. Hingga akhirnya sebuah perusahaan menawarkan posisi sebagai barista di salah satu jaringan kedai kopi ternama di Arab Saudi.
Meski sama sekali tidak memiliki pengalaman di dunia kopi, Abdullah menerima tawaran tersebut dengan penuh keyakinan. Berbekal semangat dan doa, ia berangkat ke Riyadh, berharap Allah membukakan jalan terbaik baginya.Di tempat kerja, Abdullah memulai karier sebagai kasir sebelum perlahan mempelajari seni meracik kopi dari rekan-rekannya.
Di balik kesibukan bekerja hingga 12 jam sehari, ia tetap berusaha menghadiri majelis ilmu dan pengajian yang diselenggarakan di Riyadh. Baginya, kesempatan berada di negeri yang banyak dihuni para ulama adalah nikmat yang tidak boleh disia-siakan, meski waktu luang sangat terbatas.Ujian juga datang ketika atasannya sempat meminta Abdullah mencukur jenggotnya demi alasan kerapian.
Karena meyakini bahwa memelihara jenggot merupakan bagian dari sunnah Nabi, ia memilih mempertahankan prinsipnya meski harus menerima pemotongan gaji sebagai bentuk sanksi. Keteguhannya akhirnya meluluhkan hati pimpinan perusahaan. Setelah mengetahui alasan yang sebenarnya, pihak manajemen mengembalikan hak Abdullah dan membatalkan sanksi tersebut.
Kini, setelah lebih dari setahun bekerja di Riyadh, Abdullah telah mahir menjadi barista dan berhasil menunaikan ibadah umrah. Ia berharap dapat menuntaskan ibadah haji sebelum masa kontraknya berakhir. Kisahnya menjadi pengingat bahwa merantau bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga tentang menjaga prinsip, bersabar menghadapi ujian, serta terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah di mana pun berada.
HSN
