Semakin banyak anak muda Indonesia yang mulai melirik peluang kuliah ke luar negeri. Menurut Dedi Gunawan, kesempatan tersebut sebenarnya terbuka lebar—bahkan bagi mereka yang merasa memiliki keterbatasan biaya. Kuncinya bukan semata uang, tetapi kemauan untuk mencari informasi dan bergerak.
Kuliah di Luar Negeri: Sama Seperti di Indonesia
Dedi menjelaskan bahwa kuliah di luar negeri, termasuk di China, pada dasarnya memiliki pola biaya yang mirip dengan Indonesia maupun negara lain seperti Malaysia dan Singapura.
Dalam dunia pendidikan, selalu ada tiga kategori biaya:
- Biaya mahal
- Biaya murah
- Biaya gratis
Hal ini juga berlaku pada program beasiswa, yang umumnya terbagi menjadi:
- Beasiswa sebagian (persentase tertentu)
- Beasiswa penuh 100%
- Beasiswa penuh + uang saku + asrama
Artinya, peluang selalu ada—tinggal bagaimana seseorang menemukannya.
Contoh Nyata: Kuliah IT di China
Dedi mencontohkan beberapa kampus di China yang menawarkan jurusan IT dengan biaya awal yang terlihat mahal. Namun, setelah mendapatkan potongan atau beasiswa, biayanya bisa sangat terjangkau.
Salah satu contoh adalah Zhengzhou University, di mana biaya kuliah bisa turun hingga sekitar 5.000 yuan per tahun, atau sekitar Rp11 jutaan. Jika dihitung bulanan, bahkan tidak sampai Rp1 juta.
Tidak hanya itu, ada juga program:
- Kuliah gratis + asrama
- Kuliah gratis + uang saku
- Kuliah + magang kerja berbayar
Menurut Dedi, pilihan ini sangat beragam. Tinggal menentukan mana yang paling sesuai dengan kondisi dan kesiapan masing-masing.
Kisah Inspiratif: Dari Nol Sampai Kuliah Gratis
Dedi juga membagikan kisah Sad Vika Alam, yang berhasil kuliah IT di China melalui jalur beasiswa penuh.
Perjuangannya tidak mudah. Saat masih di Indonesia, ia menjalani hidup sangat hemat, bahkan pernah tidur di stadion karena tidak mampu membayar kos. Semua kebutuhan dibawa dalam satu tas demi efisiensi.
Namun, usaha tersebut membuahkan hasil. Ia tidak hanya berhasil kuliah gratis di China, tetapi juga kemudian membantu adiknya untuk mengikuti jejak yang sama.
Masalah Utama: Bukan Uang, Tapi Kurang Informasi
Menurut Dedi, banyak orang sebenarnya bukan tidak mampu, tetapi kurang informasi. Penyebabnya sederhana:
- Tidak mau mencari
- Tidak cukup gigih
- Tidak aktif bertanya
Padahal, saat ini akses informasi sangat mudah. Dengan satu ponsel, seseorang bisa:
- Menghubungi agen pendidikan
- Mengikuti pameran pendidikan gratis
- Konsultasi tanpa biaya
- Mengumpulkan ratusan informasi dalam sehari
Ironisnya, banyak orang lebih memilih menghabiskan waktu untuk game atau media sosial dibanding mencari peluang masa depan.
Jangan Mau Enaknya Saja
Dedi juga mengkritik pola pikir sebagian orang yang ingin serba gratis, tetapi tidak mau berusaha. Misalnya:
- Tidak mau membayar
- Tidak mau riset
- Tidak mau menghubungi pihak terkait
- Tidak mau mendata kampus dan program
“Kalau semua itu tidak dilakukan, ya wajar kalau hasilnya tidak ada,” tegasnya.
Menurutnya, dari 100 informasi yang dikumpulkan, pasti akan ditemukan berbagai pilihan:
- Mahal
- Murah
- Gratis
- Gratis + asrama
- Gratis + uang saku
Tugas calon mahasiswa adalah menyaring dan memilih.
Kuliah Luar Negeri: Soal Lingkungan, Bukan Sekadar Biaya
Dedi menekankan bahwa kuliah di luar negeri bukan hanya soal biaya pendidikan, tetapi soal lingkungan dan jaringan (circle) yang didapat.
Ia bahkan menyarankan, jika ada kesempatan, lebih baik memilih kuliah di luar negeri dibanding tetap di dalam negeri—meskipun ada opsi gratis di Indonesia.
Negara tujuan pun tidak terbatas pada China. Pilihan lain seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Malaysia juga terbuka luas.
Soal Pergaulan, Kembali ke Diri Sendiri
Terkait kekhawatiran pergaulan di luar negeri, Dedi menegaskan bahwa lingkungan buruk bisa ada di mana saja, termasuk di Indonesia.
Karena itu, faktor penentu tetap pada individu masing-masing:
- Nilai yang dipegang
- Cara memilih lingkungan
- Kontrol diri
Penutup: Jangan Mager, Mulai Bergerak
Pesan utama dari Dedi sederhana: jangan malas bergerak. Peluang kuliah ke luar negeri itu nyata dan bisa diraih siapa saja, asalkan mau berusaha.
Dengan akses informasi yang luas dan gratis, tidak ada alasan untuk hanya bermimpi tanpa tindakan. Karena pada akhirnya, masa depan ditentukan bukan oleh kondisi, tetapi oleh keputusan untuk bergerak.
Sumber : Facebook Dedi Gunawan
